Namaku Nova dan aku benci hari ulang
tahunku. Itulah yang selalu aku rasakan setiap tahunnya. Semula hari itu adalah
hari terbaik yang paling aku tunggu-tunggu setiap tahun. Selain umurmu yang
bertambah, kamu akan merasa lebih dewasa padahal hanya umurmu yang bertambah. Tolak
ukur kedewasaan bukan dari usia. Kemudian hal yang paling membuat aku bahagia
adalah ucapan dari teman-temanku, entah teman sekelas, teman ekstrakurikuler,
teman-teman OSIS, bahkan beberapa guru mengucapkannya. Terkadang mereka
menjahiliku dengan menumpahkan tepung, minuman, sampai membuatku basah kuyup.
Tapi aku tau bahwa mereka melakukannya bukan karena mereka benci atau marah
padaku, mereka merayakan hari itu bersamaku dengan cara mereka sendiri.
Namun, hari itu berubah menjadi hari yang
paling aku benci. Rasa benci ini bukan karena kejadian tunggal yang langsung
mengubah pandanganku dalam sekejap. Kebencianku pada hari ulang tahunku ini ada
karena setiap tahunnya hari yang paling aku nanti-nantikan ini berbalik
mengkhianatiku. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang aku tempuh, semakin
banyak orang yang melupakan hari yang aku idam-idamkan itu. Perlahan-lahan hari
itu membuat teman-temanku lupa, hari itu membuat tak ada satupun kata yang
terucap dari mulut mereka untukku. Tidak ada tepung, telur, atau siraman air
yang membuatku menggigil kedinginan. Tidak ada lagi... sampai akhirnya aku
menyerah dan tidak berharap banyak pada hari ulang tahunku. Aku mulai
menganggap hari itu adalah hari yang biasa dan menyebalkan.
Kebencianku bertambah ketika beberapa
teman dekatku merayakan hari ulang tahun mereka dengan gembira, dengan tawa,
dengan pesta dan teman-teman yang ada untuk merayakan bersama. Dipenuhi dengan
do’a dan harapan serta hadiah dari orang-orang yang menyayanginya. Bahkan hal
yang sejak kecil aku inginkan di hari ulang tahunku pun sampai sekarang aku tak
akan mendapatkannya. Ya, meniup lilin kue ulang tahun, seumur hidupku aku belum
pernah meniup kue ulang tahunku sendiri. Kenapa...kenapa hari ulang tahun mereka
begitu menyayanginya, bahkan mampu menggerakkan hati orang-orang disekitarnya,
kenapa malah hari ulang tahunku yang berbuat jahat padaku, meninggalkanku, dan
mengkhianatiku. Dosa apa yang dulu pernah aku perbuat sehingga dia tega berbuat
kejam padaku.
Sedikit demi sedikit rasa benci ini terus keluar
dan menambah pundi-pundi kebencian di dalam diriku. Saat itu juga aku sadar,
selama ini aku hanya berharap dan terus berharap pada hari ulang tahunku dan
terus berharap dialah yang akan mengatur segala apa yang akan terjadi pada hari
itu. Aku telah salah, salah dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Aku mulai
sadar jika kita tidak bisa berharap atau bergantung pada orang lain,
kebahagiaan kita bukan karena orang lain, melainkan atas usaha diri kita sendiri.
Sejak saat itu aku rasa benciku pada hari ulang tahunku memuncak, dan sudah
kuputuskan aku akan bangkit dan membuktikan padanya bahwa aku tidak
membutuhkannya lagi. Kebahagiaanku bukanlah berasal darimu, tapi atas usahaku
sendiri. Dan disinilah hari-hari baruku mulai kujalani dengan senang hati.
Bulan November ini usiaku menginjak 24 tahun, dan
aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai orang kantoran biasa.
Gajiku yang pas-pasan membuat aku harus bekerja sambilan di rumah sebagai
pedagang. Walau tidak menjanjikan, tapi usaha kecil-kecil ini cukup untuk
membeli 3 – 4 smartphone kelas atas, hehehe. Menjelang hari ulang tahunku, aku
makin sibuk dengan pekerjaanku di kantor maupun berdagang. Bulan ini aku harus
bekerja lebih keras karena bulan ini banyak bahan mentah yang tersedia untuk
aku olah menjadi bahan siap pakai yang nantinya aku jual secara Online. Memang
di era sekarang berjualan secara Online memang lebih menjanjikan dan mudah.
Tapi, di bulan November juga ada rasa sedih yang
aku rasakan, ada rasa prihatin yang mendalam pada berbagai kejadian selama 4
tahun belakangan ini. Bulan November terkenal dengan banyaknya orang hilang dan
banyaknya pembunuhan berantai. Banyak mayat yang ditemukan selalu kehilangan
organ yang ada di tubuhnya, entah mata, ginjal, otak, bahkan jantung. Dan hal
yang paling membuatku kehilangan adalah beberapa temanku, teman SD, SMP, SMA
bahkan kuliah juga menghilang pada bulan November. Aku mulai ketakutan,
khawatir dan cemas, bagaimana jika penculik dan pembunuh itu mulai melirikku,
apa yang harus aku lakukan?
Terlepas dari hal mengerikan itu, tak terasa hari
ini adalah tanggal 7 November, ya hari ulang tahunku. Tapi, aku menghabiskan
hari itu dengan bekerja mencari bahan baku dan mempersiapkan semuanya sebelum
siap dijual. Hari ini akan sangat melelahkan dengan banyaknya barang yang aku
dapatkan. Tak terasa hari sudah petang, aku pun kembali ke kosku dengan membawa
cukup banyak kantung kresek besar. Aku membopongnya dengan susah payah karena
beratnya cukup membuatku berjalan sempoyongan. Setelah sampai aku membuka pintu
kosanku, aku tidak menyangka hari itu datang lagi, aku dikejutkan oleh banyak
teman-temanku yang datang. Sejujurnya aku kebingungan bagaimana caranya mereka
masuk apartemenku, dan aku melihat ibu
kos menyengir padaku. Hahaha...rupanya ibu koslah yang membukakan pintu untuk
mereka dan mempersiapkan kejutan ini. Tahun lalu aku juga mengalaminya di kosku
yang lama, tetapi aku tidak berfikir sejauh itu, ternyata memang ibu koslah
yang merencanakan semuanya. Perasaan yang dulu sudah terkubur sangat dalam
perlahan naik dan membawaku dalam nostalgia itu.
Setelah aku bersenang-senang dan menikmati kue
ulang tahunku, aku teringat soal pekerjaanku yang harusnya aku kerjakan sedari
tadi, ya mengolah bahan-bahan untuk nantinya aku jual. Karena bahan –bahan
tersebut tidak tahan lama jadi aku harus segera mengolanhnya. Aku mulai membuka
kantung kresek besar itu dan mulai mengolah bahan-bahannya. Aku mengambil pisau
dan menguliti dengan hati-hati karena kualitas bahan juga akan berpengaruh pada
nilai jualnya. Jangan sampai pisauku ini malah akan merusak bahannya. Setelah
semua selesai, aku mulai memilah bahan-bahan yang masih berfungsi, kemudian aku
mencucinya dengan air. Pekerjaanku hampir selesai ketika aku masuk pada tahap
terakhir yaitu memasukkan bahan-bahan tadi ke dalam wadah bening yang berisi
alkohol 75% kemudian menutupnya dengan rapat. Tidak lupa aku memberi label pada
setiap wadah agar pembeli tidak bingung dan tau. Label bertuliskan “sepasang
ginjal, kondisi baik, rentang waktu 7 hari” adalah label terakhir yang harus
aku pasang ke wadah terakhir. Akhirnya pekerjaanku selesai, dan teman-temanku
menyambutnya dengan senyuman kaku mereka. Mereka terlihat senang walaupun
beberapa dari mereka mempunyai lubang di perut dan dada mereka, bahkan ada yang
kehilangan kedua bola mata mereka. Aku senang bisa menyelesaikan pekerjaanku
tepat waktu dan teman-teman serta orang-orang terdekatku selalu ada saat hari
ulang tahunku. Bahkan setiap tahun jumlah mereka terus bertambah dan lebih
banyak penghasilan yang aku dapat karena dukungan dari teman-temanku. Aku telah
membuktikan bahwa kebahagiaan bukan berasal dari orang lain, melainkan usahamu
untuk mewujudkannya.
Keesokan harinya aku dibangunkan oleh sirine
polisi yang memaksaku untuk bangun dan melakukan beberapa aktivitas di pagi
hari, ya...menyapu. Karena semalam pekerjaanku mengotori seluruh lantai kosan
aku juga harus mengepelnya. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada secarik kertas
yang sudah terkena noda darah yang ada di lantai. Aku tertawa sekilas dan
membuang kertas kwitansi itu yang bertuliskan “Pemesanan Kue Ulang tahun pada tanggal 6 November atas nama Nova Tri Arkan”.
-TAMAT-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar